<![CDATA[Penerbit Edupublisher - Komunitas]]>Sun, 14 Jul 2024 19:17:40 +0700Weebly<![CDATA[Menulislah]]>Wed, 11 Jan 2023 23:17:22 GMThttps://edupublisher.co.id/komunitas/january-12th-2023Oleh:
Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny
Dosen, Penulis dan Wirausaha

​Al-Qur`an  surat  al-Baqarah (2) : 282 adalah ayat paling panjang yang ada dalam al-Qur`an, berisi  tentang panduan kegiatan muamalah duniawiyah dan memerintahkan kepada manusia untuk menuliskan aktivitas tersebut dalam sebuah tulisan yang baik dan benar, serta dapat dipertanggungjawabkan. Perintah membaca dalam al-Qur`an ditulis dalam ayat yang pendek,  sedangkan perintah menulis dalam ayat yang paling panjang, karena orang yang menulis pasti membaca tetapi tidak ada jaminan orang membaca akan menulis.
Petuah bijak pak kyai ketika mondok, dan sampai hari ini masih terngiang di telinga  menyatakan “al-ilmu shaoidun, wal kitaabatu Qoiduhu”, yang memiliki makna bahwa ilmu pengetahuan ibarat binatang buruan yang harus diburu dengan strategi  jitu dan alat yang mumpuni. Ketika buruan sudah di tangan maka ikatlah dengan tulisan, karena sehebat apapun manusia tidak akan mampu menampung semua buruan tanpa adanya pengikat. Walaupun seorang jenius yang dapat menyimpan seluruh informasi dan ilmu pengetahuan dalam memori akalnya, tetapi dengan seiring bertambahnya usia kemampuan memori dalam menyimpan dan mengolah informasi dan ilmu pengetahuan mengalami penurunan, dan yang lebih tragis ketika maut menjemput sang jenius tanpa memiliki tulisan, maka kejeniusannya hilang dari muka bumi ini seperti debu yang ditiup angin, hilang tanpa jejak.]]>
<![CDATA[ERA INDUSTRI 4.0 : ADAPTASI ATAU TERELIMINASI]]>Wed, 11 Jan 2023 03:56:38 GMThttps://edupublisher.co.id/komunitas/january-11th-2023
Oleh:
Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny
​Dosen, Penulis sekaligus wirausaha

Tulisan Prof Imam Robandi tentang tukang pijat 4.0, telah menyadarkan diri akan makna “perubahan adalah keniscayaan”, siap atau tidak siap bahwa perubahan itu pasti terjadi, masa kanak-kanak ditinggalkan dan masuk pada fase remaja, dewasa, dan tua. Zaman dan produk peradaban pun banyak berubah, perjalanan ibadah haji ke Makkah yang awalnya harus ditempuh ± 6 bulan, sekarang hanya ditempuh dalam hitungan jam. Khayalan masa kanak-kanak, bahwa dewasa kelak akan menjadi orang sukses, sarapan pagi di Indonesia, makan siang di Singapura, dan makan malam di Malaysia, kini telah menjadi kenyataan yang sangat mungkin dilakukan oleh siapapun. Dahulu merupakan imajinasi dan fantasi seorang anak, di era Industri 4.0 akan terbukti dan terealisasi.  
Ilmuwan adalah manusia pembelajar yang hebat, yang mampu mengoptimalkan potensi diri dan alat belajar yang telah Allah S.W.T, anugerahkan, yaitu : pendengaran, penglihatan, akal fikiran, dan hati nurani. Sejalan dengan firman-Nya dalam (Q.S. An.Nahl :  78), bahwa Allah S.W.T, mengeluarkan manusia dari rahim seorang ibu tanpa membawa dan mengetahui apapun, kemudian dianugerahkannya pendengaran, penglihatan, akal fikiran dan hati nurani (afidah/qulub) supaya bersyukur walaupun kenyataannya manusia banyak yang kufur, hal ini dikuatkan dalam (Q.S.al-Araf : 179), bahwa sungguh telah Aku jadikan kebanyakan penghuni neraka jahanam, adalah dari bangsa jin dan manusia yang diberi akal fikiran dan hati nurani, penglihatan, dan pendengaran tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga orang yang sesat dan hina adalah orang yang tidak dapat mengotimalkan potensi diri dan mengunakan alat belajar yang telah Allah S.W.T, anugerahkan kepadanya.
Pernyataan Prof Imam Robandi bahwa “Era Industri 4.0 akan membuat manusia di bumi dimudahkan dan dimanjakan, karena kehidupan berbasis kekuatan data yang bertumpu pada “transmisi data” yang memanfaatkan ruangan yang tidak terlihat (Cyber), setiap transaksi mengandalkan kartu elektronik, finger dan atau muka”, mengingatkan saya pada (Q.S. al-Isra (17) : 13), “dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka”. Dengan penafsiran secara bebas, memiliki makna bahwa pada diri manusia ada sebuah “micro chip data” super canggih yang ditanamkan Allah S.W.T, yang merekam aktivitas manusia secara detail mulai dari ditiupkan ruh sampai kembalinya ruh kepada sang Maha Pencipta, serta  akan dibuka kelak di alam akhirat.
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) dewasa ini, terutama perkembangan teknologi informasi mengalami perubahan yang sangat cepat (speed), berubah mendadak (sudden change), banyak kejutan (surprise) dan tidak bersahabat dengan yang lambat (unfriendly with slowly). Sebagai contoh dampak perubahan adalah perjalanan saya ke suatu tempat dapat dilakukan sangat praktis, mudah dan nyaman dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, diawali pemesanan tiket kereta api dan hotel melalui aplikasi, ada traveloka, pegi-pegi, airy, trivago, mister aladin, red doorz, tiket.com, dan aplikasi sejenis lainnya, konsumen dimanjakan dengan banyaknya pilihan untuk memenuhi kebutuhannya. Dahulu ketika bepergian ke luar kota akan berhadapan dengan banyak kendala, mulai dari petunjuk arah, angkutan, biaya mahal, dan waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya yang tidak dapat terprediksi dengan tepat. Sekarang hal itu menjadi mudah dengan hadirnya moda transportasi online : gojek, grab dan lainnya, tanpa harus bingung menentukan arah karena sudah dipandu dengan aplikasi maps, tidak khawatir diperas karena biaya sudah online, bahkan dengan go pay tidak ada transaksi secara manual tetapi sudah virtual. Ketika kita sampai di hotel dalam keadaan lelah dan malas gerak alias” “mager”, dengan smratphone di tangan bisa mendatangkan tukang pijit, laundry, dan makanan melalui aplikasi go-food.
Dibukanya kran perizinan bagi perguruan tinggi luar negeri untuk membuka kelas on-line maupun reguler di Indonesia (kelak bisa memberi izin sekolah tinggkat dasar dan menegah), adalah salah satu dampak perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dan tidak dibatasi ruang dan waktu, sehingga akan terjadi suatu keadaan masyarakat bisa kuliah di Harvad university, Chicago university, tottori university,  dan beberapa perguruan tinggi luar yang bonafid, dengan biaya kuliah kampus lokal dimana mahasiswa tinggal, atau sebaliknya kuliah di kampus lokal tapi biaya selangit bahkan melebihi biaya kampus bonafid, karena ketidakmampuan perguruan tinggi tersebut memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, yang menyebabkan biaya tinggi (high cost). Peluncuran kuliah online bagi 400 perguruan tinggi oleh kemenristek dikti adalah salah satu upaya awal menghadapi persaingan global, selain tetap mendorong kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, walaupun kendala utama kemajuan bangsa ini tetaplah sama yaitu tidak open minded untuk perubahan dan kemajuan, karena kejumudan dengan hal-hal yang sudah biasa, dan tidak siap beradaptasi dengan perubahan tersebut, bahkan melakukan perlawanan yang sia-sia terhadap perubahan tersebut. Besarnya penolakan keberadaan moda transportasi online dari pelaku transportasi konvensional di beberapa daerah, akhirnya hilang seperti debu yang ditiup angin, belajarlah pada manajemen bluebird taxi, yang melakukan adaptasi menggunakan aplikasi online, bahkan bergabung dengan aplikasi go jek dengan fitur go blue untuk tetap bisa eksis dalam persaingan.
Katakan good bye bagi orang atau lembaga/institusi yang tidak mau beradaptasi dan mereposisi diri dengan perubahan dan kemajuan zaman, karena cepat atau lambat orang atau lembaga/institusi tersebut sedang menuju kehancuran dan akan menghilang untuk selamanya, seperti Jastel, TV tabung, Roll film, dan produk-produk lainnya. Mari kita jemput perubahan dengan mereposisi diri karena pilihan hanya ada dua, yaitu beradaptasi atau teriliminasi.
]]>